Posterous theme by Cory Watilo

Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

Buku

Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis "brand", di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa "Warung Ice" tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.

Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: Unbearable Lightness of Being. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.

Read the rest of this post »

Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e

Ebook

Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e -- terjemahan suka-suka saya dari e-book, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).

Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):

Read the rest of this post »

Desain Kaos "Cantik Itu Luka"

Cil-tattoo-square

Dalam rangka cetak ulang novel "Cantik itu Luka", saya dan penerbit
memutuskan membuat promo kecil membuat kaos oblong. Tapi saya ingin
ketika orang memakai kaos ini, mereka tak merasa sedang memakai kaos
promosi. Maka selama 3 hari, saya berkutat membuat desain, dan inilah
hasilnya. Idenya berasal dari desain tato. Tato? Ya, bukankah tato
merafor paling mendekati untuk judul "Cantik Itu Luka"?

Lelaki dan Rumah

Home-sweet-home

Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?

Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.

Read the rest of this post »

Menciptakan Karakter

Crowd

Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam The Idiot (Dostoyevski), Kakek dalam “Robohnya Surau Kami” (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam “The Metaporphosis” (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.

Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata?

Read the rest of this post »

"Cantik itu Luka" di Badan Truk

Cantikituluka-truk
Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (@alvin_depresi) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: "Cantik itu Luka". Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?

Tidore: Melipir ke Desa Topo

Topo

Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.

Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate.

Read the rest of this post »